Selamat Datang! di Cafebahasa dan Drama-Bambang Setiawan-Blog Informasi Drama-Jangan lupa isikan Komentar Anda demi perbaikan ke depan-Kirim artikel Anda untuk diposting-bbg_cla@yahoo.com

Kamis, 04 April 2013

Pembelajaran Menulis Sastra


“Penghayatan dan Estetika itu penting”
Oleh: Bambang Setiawan
Staf Pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Pelita Raya Jambi

Menulis sastra membutuhkan penghayatan dan wawasan luas yang mengandung nilai estetika. Dalam buku Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia kelas X SMA dirincikan bahwa tujuan pembelajaran menulis sastra adalah siswa menguasai teori dan penulisan sastra yang berkaitan dengan unsur-unsur dan kaidah dalam penulisan sastra, teknik penulisan sastra, dan estetika, serta siswa terampil menulis sastra. Penulisan sastra membutuhkan penghayatan terhadap pengalaman yang ingin diekspresikan, dan memiliki wawasan yang luas mengenai estetika.

Seringkali dalam pembelajaran menulis sastra siswa mengalami kesulitan untuk menemukan ide, gagasan, untuk memulai menulis sastra, baik itu puisi maupun cerpen. Padahal keterampilan menulis merupakan keterampilan berbahasa yang sifatnya produktif, menghasilkan, memberikan, atau menyampaikan. Artinya siswa sebagai subjek (penulis) menyampaikan informasi, pikiran, perasaan kepada orang lain atau pembaca. Penulis fungsinya sebagai komunikator dan pembaca sebagai komunikan.
Proses menulis sebagai proses perubahan bentuk pikiran atau perasaan menjadi bentuk tulisan, dan mereka yang tidak bisa mengubah bentuk pikiran, perasaan itu menjadi tulisan, berarti mereka tidak mampu menulis. Menulis bukan hanya sekedar menggambar huruf, atau menyalin, menulis sebagai aspek keterampilan berbahasa dalam mengemukakan pikiran, menyampaikan perasaan melalui bahasa tulis. Menulis sastra bukan hanya cepatnya menulis huruf-huruf, bukan hanya cepatnya menulis kata-kata, tetapi utamanya adalah menyampaikan pokok-pokok pikiran, ide, gagasan, intuisi hati secara teratur yang membutuhkan penghayatan dan mengandung nilai estetika.
Realita menggambarkan bahwa untuk menulis sastra dibutuhkan latihan dan penghayatan serta pengalaman, karena dunia sastra adalah dunia fiksi, dunia seolah-olah. Namun tidak menutup kemungkinan “dunia seolah-olah” diolah dengan ide dan gagasan yang bersumber dari kisah nyata, atau realita yang benar-benar terjadi, yang dikemas dalam bentuk tulisan sastra. Untuk mencapai tingkat ketuntasan dalam pembelajaran menulis sastra, siswa perlu dibekali dengan pengalaman dan kejujuran berekspresi. Dalam penulisan ini, penulis sepakat dengan istilah “proses kreatif siswa”.
Penulis selaku guru bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia dalam  membimbing penulisan sastra, sebelum mengajarkan menulis sastra, penulis melontarkan pertanyaan “Pernahkan Anda menulis puisi atau cerita pendek (cerpen)?” Kedua, “Bila pernah menulis sastra, tentu Anda bisa mengingat-ingat bagaimana proses menulisnya!.” Ketiga, “Bagaimana menemukan ide, merenungkannya, dan menyusun kata-kata?.” Kegiatan untuk memulai proses kreatif dapat dilakukan dengan beragam cara, yaitu membaca buku sastra, melihat film, mendengar cerita, mengamati tingkah laku orang di lingkungan sekolah.
Seiring dengan perkembangan proses kreatif siswa dalam menulis sastra, siswa perlu dibekali dengan kompetensi teori sastra. walaupun dalam kompetensi dasar pembelajaran sastra pada bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia sangat minim, tidak ada salahnya jika siswa sejak dari awal juga diperkenalkan dengan teori sastra. Pendidikan sastra atau pembelajaran sastra itu sangat penting dalam mengembangkan koginitif siswa. Siswa dituntut untuk menghafalkan pengertian, definisi, atau klasifikasi tentang karya sastra dan sejarah sastra. Namun, mereka tidak dibelajarkan secara langsung mengapresiasi dan mengkritik karya sastra.
Sudah selayaknya siswa atau perserta didik diperkenalkan dengan apresiasi sastra. Dalam hal ini, pembelajaran sastra adalah pembelajaran yang mencoba untuk mengembangkan kompetensi apresiasi sastra, kritik sastra, dan proses kreatif sastra. Kompetensi apresiasi yang diasah dalam pendidikan ini adalah kemampuan menikmati dan menghargai karya sastra. Dalam pembelajaran ini peserta didik, siswa diajak untuk langsung membaca, memahami, menganalisis, serta menikamati karya sastra secara langsung. Mereka berkenalan dengan sastra tidak melalui hafalan nama-nama judul karya sastranya atau sinopsisnya, tetapi langsung berhadapan dengan hasil proses kreatifnya atau karya sastranya.
Pada mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia bidang sastra dalam kurikulum 2006, dan dalam pengembangan silabus serta rencana pembelajaran disebutkan bahwa siswa mampu menghubungkan isi puisi dengan realita sosial. Untuk mencapai kompetensi ini, siswa diajak untuk memahami dan menikmati unsur-unsur karya sastra bukan melalui hafalan pengertiannya, tetapi langsung dapat memahami sendiri melalui “berhadapan dan membaca langsung” karya sastranya. Saat membahasa unsur ektrinsik karya sastra, mereka bisa langsung berhadapan dan berbicara dengan sastrawan. Selanjutnya, siswa juga bisa diajak untuk mengamati kenyataan sosial budaya yang diceritakan dalam karya sastra.
Dengan demikian, dalam pembelajaran sastra, siswa tidak hanya diajak untuk memahami dan menganalisasi berdasarkan bukti nyata yang ada di dalam karya sastra dan kenyataan yang ada di luar karya sastra, tetapi juga diajak untuk mengembangkan sikap positif terhadap karya sastra. pembelajaran seperti ini akan mengembankan kemampuan pikir, sikap, dan keterampilan peserta didiknya. Selain itu, siswa perlu diajak untuk bisa mengapresiasi karya sastra dengan berbagai pendekatan. Sebagai contoh, siswa mampu mengapresiasi karya sastra dengan pendekatan historis, sosiologis, psikologis, dan struktural.
Begitu juga dengan apresiasi sastra, siswa diajak untuk memahami dan menilai karya sastra. Hal ini bertujuan agar siswa dapat menentukan kualitas sastra, dan nilai karya sastra, seperti baik-buruk, asli-tidaknya, bermutu-tidaknya dengan menggunakan pendekatan dan kriteria tertentu. Siswa dibelajarkan untuk tidak hanya mencari kelemahan karya sastra, tetapi juga mencari kekuatan karya sasta. Setelah siswa mampu mengapresiasi karya sastra, siswa diajak untuk menulis proses kreatif dalam bentuk karya sastra. Pembelajaran kreatif sastra mencoba membelajarkan siswa untuk mau dan mampu menulis karya sastra. Memang ada yang berpendapat bahwa menjadi penulis sastra itu bersifat individual. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya kenyataan sulitnya mencari pengganti bagi sastrawan yang meninggal atau sudah tidak berporeses kreatif lagi. Berbeda dengan seorang pemain sepak bola, dokter, insinyur, ahli hukum, bila mereka meninggal dunia dengan segera cepat bisa mencari gantinya.
Pendidikan dan pembelajaran sastra di sekolah semestinya ditingkatkan melalui kegiatan ekstrakurikuler, jika porsi pembelajaran pada jam efektif tidak mencukupi atau minim. Pembelajaran sastra hendaknya mempertimbangkan keseimbangan pengembangan pribadi dan kecerdasan siswa. Pembelajaran sastra sangat strategis digunakan untuk mengembangkan kompetensi atau kecerdasan spiritual , emosional, bahasa, atau untuk mengembangkan intelektual, dan kinestetika.
Kompetensi intelektual antara lain berupa kemampuan berpikir, bernalar, kemampuan kreatif dan inovatif, kemampuan memecahkan masalah, dan kemampuan mengambil keputusan strategis yang mendukung kehidupan global. Kemampuan anak akan hal ini dapat diasah melalui pembelajaran sastra di sekolah. Sedangkan kompetensi emosional adalah kompetensi utuk memahami diri sendiri dan orang lain. Kompetensi kecerdasan bahasa antara lain berupa kemahir-wacanaan, kemampuan menguasai sarna komunikasi mutakhir, kemampuan menguasai suatu bahasa. Pembelajaran sastra hendaknya digunakan siswa sebagai salah satu kecakapan untuk hidup dan belajar sepanjang hayat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar